Archive for October, 2008

Tuesday, October 14th, 2008

Berdasarkan perhitungan geografi feng shui, maka didapatilah letak atau posisi kepala naga di sebuah daerah bernama Kelapa Gading. Dasar perhitungannya seperti apa, tidak tahu. Yang pasti, naga dalam kepercayaan Feng Shui punya kaitan kuat dengan kesuksesan, keberuntungan (hoki), dan kelancaran rejeki. Keseluruhan bodi naga mengandung tiga unsur itu. Tapi tentu saja, kaitan paling kuat terletak di daerah kepala. Ya di daerah Kelapa Gading itu.

Orang China yang begitu fanatik dengan Feng Shui mempercayai betul hasil perhitungan geografis tersebut, dan berusaha meraihnya. Maka berbondong-bondonglah mereka mendatangi daerah yang masih berupa daratan rawa itu. Daratan yang mestinya jadi tempat tampungan air, terutama di waktu hujan. Daratan rawa itu kemudian diurug dengan ribuan kubik tanah, dan ditanam dengan ratusan tiang-tiang pondasi. Peraturan daerah peruntukan tak digubris, dan hasil Amdal dimodifikasi sedemikian rupa agar semua obsesi mereka terwujud. Obsesi untuk mendapatkan berkah ’sang Naga’. Dengan kata lain, obsesi untuk sukses, beruntung (hokki), dan lancar rezeki. Walhasil, hanya dalam jangka waktu beberapa tahun, daerah rawa yang bernama Kelapa Gading itu berubah menjadi sebuah kawasan perumahan elit, lengkap dengan komplek perkantoran, mall dan apartment. Rezeki dituai dengan begitu mudahnya dengan dijalankannya sentra-sentra bisnis dan perdagangan di daerah itu. Perlahan dan terus beranjak cepat, berkah ‘kepala sang Naga’ dirasakan begitu nyata oleh orang-orang China, baik yang tinggal, maupun yang hanya menjalankan kegiatan bisnisnya di daerah itu.

Tapi kemudian tahun 2002 datang. Hujan turun dengan derasnya dan tak berhenti-henti. Banjir bandhang melanda Jakarta, dan mengusik kepala sang Naga. Daerah Kelapa Gading termasuk salah satu daerah yang paling parah di Jakarta yang terendam banjir. Ratusan rumah tergenang oleh air yang meluap dari tanggul dan saluran drainase di sekitarnya. Aset-aset yang tak sempat diselamatkan, seperti mobil dan alat-alat elektronik, terpaksa menjadi korban dari petaka itu.

Setelah banjir berlalu, orang-orang kemudian meributkan tentang kesalahan peruntukan dan daerah rawa yang diurug oleh ribuan kubik tanah. Daerah Kapuk dan Kelapa Gading jadi fokus perhatian. Sedikit orang yang menyinggung tentang kepala sang Naga, yang membuat banyak orang China terobsesi untuk hidup dan mencari keberuntungan di daerah rawa itu. Yang akhirnya mendorong peraturan-peraturan lingkungan hidup bisa diatur dan dimodifikasi sedemikian rupa.

Waktu kemudian berlalu seperti biasa. Orang-orang disibukkan kembali dengan aktifitas rutin, dan sekelumit permasalahan hidup yang melilit ibukota dan tanah air. Masyarakat dan pemerintah tersedot perhatiannya dengan permasalahan BBM, listrik, biaya pendidikan, dan permasalahan-permasalahan nasional lainnya yang tak kunjung selesai. Masyarakat mulai melupakan bencana banjir yang sempat sangat merepotkan mereka.

Dan daerah Kelapa Gading mulai bergeliat kembali. Jumlah apartment, mall, ruko dan perkantoran bertambah dari waktu sebelumnya. Yang artinya, area tanah resapan di daerah itu semakin terus saja berkurang. Mungkin spirit ‘Kepala Sang Naga’ yang masih membara yang membuat laju pembangunan di daerah itu dengan ‘beraninya’ tak menggubris permasalahan lingkungan (banjir, dan tanah resapan).

Sampai akhirnya tahun 2007 datang, dan hujan turun dengan derasnya, dan tak berhenti-henti.

Dan Kita semua tahu apa yang selanjutnya terjadi.

Saturday, October 11th, 2008

Ragam jenis pot atau tempayan yang ada di pedagang tanaman hias, mengisyaratkan bahwa popularitas wadah tanaman ini sedang marak. Anda tertarik? Simak dulu kiatnya!

Menyusuri sentra-sentra tanaman hias, deretan pot atau tempayan kini terlihat makin bervariasi. Beragam bahan dasar, ukuran, warna, dan model tersedia untuk dipilih. Tak pelak semuanya mengisyaratkan bahwa popularitas wadah tanaman ini sedang marak. Anda tertarik juga untuk menggunakannya di taman? Simak dulu kiatnya berikut ini.

Beda Pot dan Tempayan
Kata ‘pot’—berasal dari bahasa Inggris dan Belanda—dengan jelas mengacu pada sebuah obyek yang berfungsi sebagai wadah tanaman. Wadah di sini bisa berarti dua. Yang pertama, tanaman hias ditanam langsung di dalam pot tersebut, setelah sebelumnya pot diisi dahulu dengan media tanam. Yang kedua, pot hanyalah sebagai “peranti display”, di mana pot hanya “membungkus” wadah asli tanaman (yang biasanya jelek). Hal ini terutama bila pot tersebut merupakan barang yang mahal, langka atau antik.

Sementara itu tempayan adalah wadah—biasanya terbuat dari tanah liat—bermulut lebar. Meskipun yang diberi nama gentong (tinggi, bermulut sempit), juga tergolong dalam keluarga tempayan. Awalnya tempayan lebih berfungsi sebagai wadah air, tetapi lambat laun dimanfaatkan pula sebagai wadah tanaman. Sama seperti pot, tanaman hias bisa ditanam langsung, atau bersama potnya, dimasukkan ke dalam tempayan. Umumnya tempayan lebih dimanfaatkan untuk tanaman air, tetapi sah-sah saja jika dipakai untuk menanam tanaman hias yang menggunakan media tanam tanah.

Bahan Dasar dan Sifat Tanaman
Aneka pot dan tempayan yang sekarang ini ditawarkan terbuat dari beragam bahan dasar; tanah liat, adukan semen, keramik, porselen, plastik, bahkan kayu. Finishing atau sentuhan akhirnya pun bervariasi. Dibiarkan polos sesuai dengan warna bahan dasarnya, diberi ornamen-ornamen yang menonjol (seperti profil), ditempel mozaik porselen, batu-batu kerikil. diwarnai, dan diglasir. Semuanya ini dilakukan agar pot dan tempayan tampil menarik sesuai dengan selera masing-masing konsumen.

Namun sebelum membeli, sebaiknya pertimbangkan dahulu sifat bahan dasar wadah dan tanaman hias yang akan ditempatkan di situ, khususnya bila wadah memang direncanakan untuk menampung media tanam sekaligus tanamannya. Misalnya pot atau tempayan dari tanah liat mempunyai sifat poros, menyebabkan air cepat merembes keluar sehingga media tanam cepat kering.

Jadi untuk pot dan tempayan tanah liat harus dipilih tanaman yang kurang membutuhkan air banyak seperti mirten, tah-tehan, dan jenis sukulen. Atau pilih lokasi penempatan pot yang agak teduh. Jika trik ini yang Anda pilih, jangan lupa memilih jenis tanaman yang menyukai keteduhan (Misalnya jenis semi in – door).

Jika digunakan untuk wadah tanaman air (Tempayan dan pot-pot tanah liat yang tinggi dan bermulut lebar), bagian dalam pot dan tempayan tanah liat perlu dilapisi dahulu dengan adonan semen untuk menutupi pori-pori dinding.

Untuk pot atau tempayan dari adukan semen, sifatnya juga berporus tapi sedikit lebih kedap daripada yang tebuat dari tanah liat. Sebaliknya pot plastik/fiber bersifat kedap air dan udara. Kelemahan pot atau tempayan plastik adalah penguapan kelebihan air siraman terhambat sehingga media tanah seringkali menjadi terlalu basah. Akibatnya akar-akar tanaman akan membusuk.

Jika menggunakan pot plastik, pastikan bahwa lubang-lubang di dasar pot cukup banyak. Dan 1/3 bagian bawah pot sebaiknya diberi arang, batu karang atau batu apung dan disempurnakan dengan penyangga dari batu bata atau besi. Dengan demikian kelebihan air dalam pot akan mudah mengalir keluar. Hingga saat ini tempayan plastik atau lebih tepatnya ember, sering digunakan pedagang tanaman hias sebagai wadah tanaman air. Tapi tanaman air biasanya akan tumbuh lebih sempurna bila ditanam langsung dalam wadah tanah liat yang besarnya memadai.

Pot dan tempayan dari keramik atau porselen juga bersifat kedap udara dan air. Meski keduanya dibuat dari bahan-bahan alami, setelah melalui proses pembakaran, pori-porinya akan merapat. Tampil mewah, mahal dan berat, jenis ini lebih sering digunakan sebagai peranti display.

Sementara itu, pot kayu lebih cocok untuk tanaman hias yang menggunakan media tanam pakis cincang, seperti suplir, kadaka, kuping gajah, atau anggrek, karena kayu menahan kelembaban cukup baik. Tempayan dari kayu (tahang), bisa juga untuk wadah tanaman air, asalkan bagian dalamnya dilapis dahulu dengan aspal supaya kedap air.

Model dan Ukuran
Membeli pot atau tempayan memerlukan pertimbangan bijak. Di samping bahan dasar, besarnya pot perlu dipikirkan supaya mampu mengantisipasi pertumbuhan tanaman. Setelah sekian waktu, ukuran dan bentuk tanaman pasti akan berubah. Yakni lebih tinggi dan lebih melebar. Bisa jadi, wadah dan tanaman sudah tampil serasi di saat awal penanaman menjadi tidak proporsional lagi. Selanjutnya wadah yang terlalu sempit tentunya akan menghambat pertumbuhan akar tanaman yang pada akhirnya juga mengurangi kesempurnaan tampilan tanaman.

Bentuk fisik tanaman perlu pula disesuaikan dengan bentuk dan ketinggian wadah. Misalnya, tajuk tanaman yang membulat dan melebar akan tampil serasi bila wadahnya tidak terlalu tinggi dan berbentuk cembung. Sedangkan tanaman yang bentuknya meninggi memerlukan wadah yang agak tinggi pula supaya tampil seimbang. Begitu pula untuk tanaman yang sifatnya menjuntai ke bawah.

Model pot atau tempayan jangan diabaikan, terutama bila benda-benda tersebut hendak digunakan sebagai elemen dekoratif taman. Hindari memilih model pot yang terlalu ramai bila ukuran taman sangat terbatas. Bentuk/model yang bergaris tegas, sederhana dalam tampilan, justru akan menonjol setelah diletakkan di taman.

Kosong Tetap Oke
Selain untuk peranti display tanaman hias, pot dan tempayan kini mulai difungsikan sebagai elemen estetika dalam taman. Meskipun kosong tanpa tanaman, tetapi jika bahan, bentuk, dan warna wadah dipilih dan diletakkan dengan penuh selera, maka wadah tersebut justru akan tampil ornamental serta berfungsi sebagai point of interest tamanyang menawan.

Sebagai contoh, sebuah taman yang mungil pun sudah mampu mempesona mata. Cukup “bermodalkan” sebuah gentong, tempayan, atau pot tinggi, sedikit tanaman-tanaman kecil di kakinya, hamparan rumput hijau, dan sedikit perkerasan.

Begitu pula bila beberapa pot terakota atau tanah liat yang polos dan sederhana, terdiri dari berbagai bentuk dan diisi dengan tanaman hias dari jenis yang sama, ditata secara artistik dalam sebuah kelompok. Hasilnya pasti membuat Anda bangga! (Cherry Hadibroto dan Don WS.-Penulis buku interior dan taman/www.tabloidrumah.com)

sumber